Sabtu, 29 September 2012

filsafat neothomisme dan eksistensialisme


BAB II
Pembahasan
A.    Filsafat Kontemporer
Banyak istilah dalam penyebutan filsafat kontemporer, diantaranya, filsafat pasca modern, filsafat posmo dan lain-lain. Filsafat barat kontemporer ini muncul pada abad ke-20 sebagai kritik dari filsafat modern, hal ini dapat terungkap dalam  istilah dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat.
Filsafat Kontemporer muncul diawali sikap ingin mendobrak teori Filsafat Modern yang menggunakan keuniversalitasan kebenara tunggal dan bebas nilai. Oleh sebab itu salah satu ciri yang terdapat dalam Filsafat Kontempoter ini mengagungkan nilai-nilai relatifitas, dan lebih cenderung beragam dalam pemikiran. Ciri filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik Logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadikan rasio sebagai instrumen utama.[1]
Zaman kontemporer pemikiran tidak hanya berpusat pada masaalah ilmiah saja, melainkan juga masalah etis, konstruksi pemikiran, seni, waktu, dan lain-lain bisa dibahas secara terbuka. Adanya penghargaan terhadap hal-hal semacam ini merupakan ciri dari zaman kontemporer, yaitu apa pun boleh dibahas, tetapi yang perlu diingat bahwa batasan zaman tidak ditandai melalui tahun berapa (waktu), melainkan corak sejarah pemikirannya.[2]
            Filsafat kontemporer dibagi menjadi beberapa aliran, diantaranya: Neothomisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, Realisme Kritis, Pragmatisme, Materialisme, Evolusionisme, Positivisme, Tradisionalisme dan Idealisme.


B.     Neothomisme
1.      Awal Mula Neothomisme
Neothomisme merupakan Aliran filsafat yang muncul sebagai penerus dari aliran Thomisme yang telah lama hilang, Aliran ini muncul kembali dikarenakan pada zaman sebelum Neothomisme atau zaman filsafat modern orang-orang telah mendewakan Rasio sehingga mereka merindukan kembali dengan adannya kepercayaan Kristen, maka munculah Neothomisme yang berusaha menggabungkan antara Rasio dengan agama, seperti apa yang dibangun oleh Thomisme pada zaman dahulu.
Thomisme adalah aliran filsafat yang muncul sebagai warisan dari pemikiran St Thomas Aquinas , seorang imam Katolik yang saleh.
St Thomas Aquinas percaya bahwa kebenaran adalah benar di mana pun ditemukan, seperti juga para filsuf Yunani , Romawi , Yahudi , dan Muslim. Secara khusus, ia adalah seorang realis (yaitu, bahwa dunia dapat diketahui seperti apa adanya, berlawanan dengan sikap skeptis ). Dia terutama mengikuti terminologi dan metafisika Aristoteles, dan menulis komprehensif  komentar tentang Aristoteles , ini dapat melaui argumennya yang menegaskan pendapat Aristoteles.
Thomas mengikuti pemahaman Aristoteles, merujuk kepadanya sebagai "Filsuf", ia juga mengikuti beberapa prinsip neoplato, seperti ketika ia mengatakan bahwa "adalah mutlak benar bahwa ada sesuatu yang pertama yang pada dasarnya ada dan pada dasarnya baik , yang kita sebut Allah, ... [dan bahwa segala sesuatu] bisa disebut baik dan ada, sejauh ia berpartisipasi di dalamnya dengan cara suatu asimilasi tertentu ... ".[3]

2.      Tokoh Neothomisme
Tokoh-tokoh terkemuka dalam gerakan Neothomisme adalah ;
1.      Desire Mercier (1851-1926)
2.      Antonin Gilbert Sertilanges (1863-1948)
3.      Reginald Gerriou-Lagrange (1877-1964)
4.      Joseph Marechal (1878-1944), dll.[4]

3.  

C.    Eksistensialisme
1.      Awal Mula Eksistensialisme
Munculnya eksistensialisme didorong oleh situasi dunia secara umum, terutama dunia Eropa Barat, pada waktu itu kondisi dunia pada umumnya tidak menentu akibat perang, dimana-mana terjadi krisis nilai. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri, manusia melupakan individualitasnya. Dari sanalah para filosof berpikir dan mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut. Dari proses itulah lahir eksistensialisme. [8]
Eksistensialisme terutama merupakan perlawanan atas materialisme ataupun idealisme. Materialisme beranggapan bahwa manusia sama halnya dengan kayu, batu dan benda lainnya, namun menurut bentuknya manusia lebih unggul dari pada kayu dan batu, namun keberadaannya sama. Artinya manusia adalah materi yang betul-betul materi. Sedangkan menurut eksistensialisme memang keberadaan manusia sama dengan batu dan kayu, akan tetapi cara beradanya tidak sama, manusia berada didunia dan ia mengalmi keberadaannya didunia, mengerti bahwa keberadaannya mempunyai arti, artinya manusia adalah subyek, subyek adalah yang menyadari.[9]
 Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala hal berpangkal pada eksistensinya, artinya bahwa eksistensialisme merupakan cara manusia berada, atau lebih tepat mengada di dunia ini.[10]Aliran ini berpendapat bahwa filsfat harus bertitik tolak pada manusia yang konkrit, yakni manusia sebagai eksistensi.[11]
Ciri2 aliran eksistensialisme,
1.      Orang yang dinilai dan ditempatkan pada kenyataan sesungguhnya
2.      Orang yang berhubungan dengan dunia yang ada
3.      Manusia merupakan satu kesatuan sebelum ada perpisahan antara jiwa dan badan
4.       Orang berhubungan dengan segala sesuatu yang ada.[12]


2.      Tokoh Eksistensialisme
Tokoh-tokoh aliran ini adalah Sooren Kierkegaard (1815-1855), Martin Haidegger (1889-1976), Karr Jaspers (1883-1969). Ketiganya ini dari Jerman, sedang tokoh dari Prancis adalah Gabriel Marcel (1889-1973), Jean Paul Sartre (1905-1980) dan masih banyak lagi diantaranya Albert Camus dan Simon Beauvoir.h.  67
Inti pemikiran aliran ini adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. [13]

3.     

[1] Abadi Saada, “Latar Belakang Munculnya Filsafat Barat Kontemporer,” diakses Tanggal 16 Oktober 2010, dari http//abadisaada.blogspot.com201010filsafat-barat-kontempore.html
[2] Aprillins, “Filsafat Kontemporer,” diakss Pada Tanggal 24 Maret 2009, dari http//Filsafat Kontemporer - aprillins.com.htm
[3] Mirsi Nira, “The Book Of Phylosoph”, Diakses Tanggal 19 Juni 2010, Dari http://thebookofphylosoph.blogspot.com/2010/06/thomisme.html
[4] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer, Cet III  (Jakarta : PT Gramedia, 1996), h. 47-50
[5] Burhanuddin Salam, Filsafat Manusia (Jakarta: PT Bina Aksara, 1988), h. 6
[6] Ibid., h. 9
[7] Ibid., h. 22
[8] Scribd, “Eksistensialisme”, Diakses Dari http://www.scribd.com/doc/33449410/eksistensialisme
[9] Atang Abdul Hakim, Beni A. S., Filsafat Umum, Cet I (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), h. 334
[10] Ibid., h. 324
[11] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, Pengantar Filsafat Cet I, (Surabaya: IAIN SA Pres, 2011), h. 121
[12] Suparlan suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2005), h. 66
[13] Scribd, Op. Cit.
[14] QS. Al- Maidah : 48.

perbuatan manusia


BAB II
Perbuatan Manusia Menurut Beberapa Aliran

A.    Jabariyah
Tukoh-tokoh dari aliran jabariyah yang berpendapat tentang perbuatan manusia digolongkan menjadi dua, aliran ini ada yang berpendapat ekstrim dan moderat. Diantara tokoh jabariyah ekstrim adalah :
A.    Jahm bin Safwan dan Ja’ad bin Dirham
mereka berpendapat “Manusia pada dasarnya tidak memiliki kehendak dan pilihan, dengan kata lain terpaksa”. Semua perbuatan yang terjadi pada mahluk adalah perbuatan Allah, manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya. Semua perbuatan manusia, iradah maupun daya  baik ataupun buruk adalah dari Allah.
            Adapun tokoh jabariyah moderat adalah
B.     An-Najar dan Ad-Dhirar
Pendapatnya adalah “ Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia baik itu yang baik ataupun buruk, tapi manusia punya peran, Tuhan menciptakan daya dalam diri manusia, maka dalam menentukan perbuatan itu akan dilaksanakan atau tidak itu adalah bagian manusia, teori inilah yang disebut al-kasb.[1]
B.     Qadariyah
Berbeda dengan jabariyah, aliran qadariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia, iradah, dan dayanya semua adalah berasal dari manusia itu sendiri, dalam arti lain Tuhan tidak campur tangan dalam hal ini. Manusia mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidupnya untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Faham ini dikenal dengan nama free will dan free act.[2]
Mansuia mempunyai kewenangan untuk melakun segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memproleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat, itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri, bukan akhir Tuhan. Sungguh tidak pantas, manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.[3]
C.    Asy’ariyah
Pelopor aliran ini adalah Abu Hasan Al-Asy’ari, awal mulanya Al-Asy’ari adalah penganut aliran Mu’tazilah ini karena ibu dari Al-Asy’ari  menikah dengan Abu Ali Al-Jubba’i yaitu tokoh Mu’tazilah, dengan kata lain Al-Jubba-i adalah ayah tiri Al-Asy’ari. Selama 40 tahun Al-Asy’ari menekuni aqidah mu’tazilah bahkan menjadi pakar terkemuka di aliran ini. Diantara yang melatar belakangi perpindahan Al-Asy’ari dari Mu’tazilah ke Ahlussunah Wal Jama’ah adalah ketidak puasan Al-Asy’ari  terhadap ideologi Mu’tazilah.[4]
 Adapun ajaran Al-Asy’ari mempercayai bahwa perbuatan dan daya manusia itu adalah dari Tuhan, sedangkan iradahnya adakalanya dari manusia dan adakalanya dari Tuhan. Jadi perbuatan itu timbul karna adanya daya yang di ciptakan Tuhan. Contoh kejadian perbuatan yang diluar kemauan kita ialah ketika kita terjatuh dari pohon,  kita tidak menginginkan hal itu terjadi, tapi mau tidak mau itulah yang harus terjadi pada kita, berarti kita terjatuh itu merupakan iradahnya Tuhan.[5]
Untuk menjelaskan dasar pijakannya , Al-Asy’ari menggunakan teori al-kasb(perolehan , dapat di jelaskan sebagai berikut, segala sesuatu terjadi kana perantara daya yang diciptakan, sehingga muktasih memperoleh kasb, sehingga konsekuensinya manusia bersikap pasif dalam perbuatan-perbuatannya.[6]
Dari uraian diatas dapat dikatakan  prinsip aliran Al-Asy’ariyah  berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Tuhan dan Tuhan menciptakan pula daya pada diri manusia untuk melahirkan perbuatan tesebut. Perbuatan manusia adalah yang di peroleh manusia dari Tuhan, maka perbuatan itu adalah kasb dari Tuhan untuk manusia, ini berimplikasi bahwa perbuatan manusia dibarengi oleh daya kehendaknya, dan bukan atas daya kehendaknya.
D.    Mu’tazilah
Mu’tazilah menganut faham qadariyah atau fee will, menurut al jubba’i dan abd al jabbra, manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya. Manusia sendirilah yang berbuat baik dan buruk daya upaya dan kehendak terdapat dalam diri manusia. Walaupun pendapat mu’tazilah tentang perduatan manusia ini sama dengan qadariyah, tetapi ada perbedaannya, yaiyu aliran mu’tazilah meyakini adanya ilmu azali Allah yang mengetahui segala apa yang akan terjadi dan diperbuat manusia.
E.     Maturidiyah
Ada perbedaan antara maturidiyah Samarkand dan maturidiyah Bukhara mengenai perbuatan manusia. Kelompok pertama lebih dekat dengan faham Mu’tazilah. Perbedaan dengan mu’tazilah adalah daya untuk berbuat tidak diciptakan sebelumnya, tetapi bersamaan dengan perbuatannya. Sedang kelompok kedua lebih dekat dengan faham Asy’ariyah. Sebenarnya maturidiyah tidak banyak berbeda pendapat dengan maturidiyah Samarkand, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang perwujutan daya, maturidiyah Bukhara berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat menciptakan perbuatan, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatang dari apa yang telah diciptakan Tuhan baginya.[7]

























BAB III
Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat di simpulkan:
1.      Pendapat jabariyah tentang perbuatan manusia  adalah
Semua perbuatan yang terjadi pada mahluk adalah perbuatan Allah, manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya. Semua perbuatan manusia, iradah maupun daya  baik ataupun buruk adalah dari Allah.
2.      Pendapat qadariyah tentang perbuatan manusia adalah
perbuatan manusia, iradah, dan dayanya semua adalah berasal dari manusia itu sendiri, dalam arti lain Tuhan tidak campur tangan dalam hal ini.
3.      Pendapat Asy’Ariyah tentang perbuatan manusia adalah
perbuatan dan daya manusia itu adalah dari Tuhan, sedangkan iradahnya adakalanya dari manusia dan adakalanya dari Tuhan.
4.      Pendapat Mu’tazilah tentang perbuatan manusia adalah
Sama dengan qadariyah
5.      Pendapat Maturidiyah tentang perbuatan manusia ada dua
·         Menurut maturidiyah Samarkand seperti mu’tazilah
·         Menurut maturidiyah Bukhara sama dengan Asy’ariyah


[1]  Mihwanuddin, “Asal Usul Jabariyah,” Diakes Pada Tanggal 10 Maret 2011 Dari Dari http://mihwanuddin.wordpress.com/2011/03/10/asal-usul-pandangan-dan-pendapat-aliran-jabariyah/

[2]  IAIN Sunan Ampel, Ilmu Kalam, Cet I (Surabaya: IAIN SA Press, 2011) h. 67
[3]  Romi Permadi, “Perbuatan Manusia Menurut Beberapa Aliran dalam Teologi Islam,” Diakses Tanggal 30 April 2011 Dari http://romipermadi.blogspot.com/2011/04/perbuatan-manusia-menurut-beberapa.html
[4]  Op. cid, 100
[5]  Ibid., 109
[6]  Abdur Rozak, Rosihon Anwar, ilmu kalam, cet VI (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2011) h. 165
[7]  Ibid., 166

Pages - Menu

Pengikut