Selasa, 30 April 2013

Teknik pengolahan skor hasil evaluasi



BAB I
Evaluasi pembelajaran merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar, hal ini menjadi penting sebab dengan adanya evaluasi dapat mengetahui kelemahan-kelemahan dan kekurangan serta perkembangan proses belajar me
ngajar dan masih banyak hal lain yang berhubungan dengan pentingnya dan tujuan evaluasi. Dapat dikatakan bahwa semakin baik atau semakin buruknya sebuah pembelajaran sangat ditentukan oleh proses pengevaluasiannya.
Kebanyakan pengajar tidak begitu memperdulikan teknik-teknik yang baik dalam    menyelenggarakan suatu instrumen dan ilmu-ilmu yang ada dalam evaluasi pembelajaran. Dalam evaluasi pembelajaran terdapat teknik-teknik pelaksanaan suatu instrumen, macam-macamnya, pemilihan soal-soal yang baik, cara penskoran, pengolahannya dan lain sebagainya.
Patut untuk diperhatikaan oleh para pengajar tentang pentingnya menguasai ilmu pengolahan hasil evaluasi. Dengan ilmu ini maka tidak dikhawatirkan terjadi ketidak adilan dalam pemberian nilai pada peserta didik.
Adapun makalah ini ditulis untuk membahas tentang:
1.      Teknik pengolahan data hasil evaluasi
2.      Pengolahan skor mentah dalam PAP
3.      Pengolahan skor mentah dalam PAN
4.      Merangking siswa dari beberapa mata pelajaran


BAB II
Banyak guru yang sudah mengumpulkan data hasil tes dari peserta didiknya, tetapi tidak memperhatikan cara mengolahnya sehingga data tersebut menjadi mubazir (data tanpa makna). Sebaliknya, jika hanya ada data yang relative sedikit, tetapi sudah mengetahui cara pengolahannya, maka data tersebut akan mempunyai makna. Pada umumnya, pengolahan data hasil tes menggunakan bantuan statistic. Analisis statistic digunakan jika ada data kuantitatif, yaitu data-data yang berbentuk angka, sedangkan untuk data kualitatif, yaitu data yang berbentuk kata-kata, tidak dapat diolah dengan statistic.
Menurut Zainal Arifin (2006) dalam mengolah data hasil tes, ada empat langkah pokok yang harus ditempuh. Pertama, menskor, yaitu member skor pada hasil tes yang dapat dicapai oleh peserta didik. Untuk memperoleh skor mentah diperlukan tiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci scoring, dan pedoman konversi. Kedua, mengubah skor mentah menjadi skor standart sesuai dengan norma tertentu. Ketiga, mengkonversikan skor standart kedalam nilai, baik dalam bentuk huruf ataupun angka. Keempat, melakukan alalisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda.[1]
Bila semua jawaban siswa dalam suatu tes sudah diperiksa dan diberikan skor, maka kita akan memperoleh skor akhir untuk setiap siswa. Skor inilah yang disebut dengan skor mentah.[2] Kegiatan ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena menjadi dasar bagi pengolahan hasil tes menjadi nilai prestasi. Kita tidak dapat menjadikan skor mentah ini sebagai nilai akhir untuk siswa, kita harus mengubah dan mengolahnya terlebih dahulu menjadi skor terjabar. Dalam mengolah skor mentah (raw score) menjadi nilai huruf dan skor standart dengan urutan uraian sebagai berikut:[3]
           1.            Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf
           2.            Mengolah skor mentah menjadi skor standart 1-10
           3.            Mengolah skor mentah menjadi skor standart Z dan T

Sebelum membahas pengelolaan skor kita buat perumpamaan terlebih dahulu. Terdapat 60 item soal pilihan ganda pelajaran bahasa Arab, tiap item yang benar berbobot 1. Skor mentah yang diperoleh 20 siswa adalah 32, 36, 27, 50, 22, 34, 35, 37, 43, 17, 21, 42, 46, 32, 31, 28, 57, 57, 54, 51.
        Prosedur yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:[4]
a.       Mencari skor ideal, yaitu skor yang mungkin dicapai jika semua item dapat dijawab dengan benar. Skor ideal diperoleh dengan jalan menghitung jumlah item yang diberikan serta bobot dari tiap-tiap item.
Dari contoh diatas diketahui skor idealnya adalah 60
b.      Mencari rata-rata ideal (id) dengan rumus:
 = ½ x skor ideal      =  ½  x  60  =  30
c.       Mencari deviasi (SD) ideal dengan cara:
SD =  1/3  x    SD =  1/3  x  30 = 10
d.      Menyusun kebutuhan konversi sesuai dengan yang dibutuhkan.
      
Adapun pedoman konversi dengan adalah:[5]
+ 1,5  (SD)     = 30 + 1,5 x 10 =  45 = A
+ 0,5  (SD)     = 30 + 0,5 x 10 =  35 = B
-  0,5  (SD)     = 30 -  0,5 x 10 =  25 = C
-  1,5  (SD)     = 30 -  1,5 x 10 =  15 = D
Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa siswa yang mendapat skor 45 – 60 mendapat nilai A, 35 – 44 = B, 25 – 34 = C, 15 – 24 = D, 0 – 14 = E.
Pemberian nilai dengan menggunakan huruf disesuaikan dengan huruf yang terdapat dalam urutan abjad. Huruf tidak hanya menunjukkan kuantitas, tetapi dapat juga digunakan sebagai simbol untuk menggambar kualitas.[6]
skoangka
Nilai huruf
predikat
50
37
33
22
5
A
B
C
D
E
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang

Untuk mengubah skor mentah menjadi skor terjabar dalam skala 1 – 10 dapat digunakan ketentuan-ketentuan berikut:

+  2,25 (SD) = 10  = 30 + 2,25 x 10 = 53 = 10
+  1,75 (SD) = 9    = 30 + 1,75 x 10 = 48 = 9
+  1,25 (SD) = 8    = 30 + 1,25 x 10 = 43 = 8
+  0,75 (SD) = 7    = 30 + 0,75 x 10 = 38 = 7
+  0,25 (SD) = 6    = 30 + 0,25 x 10 = 33 = 6
- 0,25 (SD) = 5      = 30 -  0,25 x 10 = 28 = 5
- 0,75 (SD) = 4      = 30 -  0,75 x 10 = 23 = 4
- 1,25 (SD) = 3      = 30 -  1,25 x 10 = 18 = 3
- 1,75 (SD) = 2      = 30 -  1,75 x 10 = 13 = 2
- 2,25 (SD) = 1      = 30 -  2,25 x 10 =  8  = 1
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa siswa yang mendapat skor 53 – 60 mendapat nilai 10, 48 – 52 = 9, 43 – 47 = 8, 38 – 42 = 7, 33 – 37 = 6, 28 – 32 = 5, 23 – 27 = 4, 18 – 22 = 3, 13 – 17 = 2, 8 – 12 = 1, dan skor dibawahnya 0.
Bila kita ingin agar skala tersebut lebih halus yakni ada nilai diantara nilai-nilai tersebut, seperti 9,5; 8,5; 7,5 dan seterusnya, kita bisa memperkecil jarak antar skala-skala itu. Diantara 2,25 (SD) dan 1,75 (SD) dapat ditempatkan 2,00 (SD) yang ekuivalen dengan nilai 9,5. Diantara 1,75 (SD) dan 1,25 (SD) dapat ditempatkan 1,50 (SD) yang ekuivalen dengan nilai 8,5 dan begitu seterusnya.[7]
Pengolahan skor mentah menjadi skor Z ini sering kali dirasakan perlunya karena dengan hanya melihat skor mentah saja kita belum dapat memberikan tafsiran yang baik dan tepat. Dengan menggunakan rata-rata   dan SD kita dapat menjabarkan atau mengubah skor-skor yang diperoleh menjadi skor Z dengan menggunakan rumus dibawah ini.
Z =                    =     =  0,5
X =  skor mentah yang diperoleh siswa.

       Sedangkan T- Score disebut juga skala 0-100. Rumus T- Score adalah:
       T = (  ) 10 + 50               = (  ) 10 + 50  = 30
Penilaian acuan norma menskor peserta didik dengan membandingkan hasil belajar satu peserta dengan hasil peserta lainnya dalam satu kelompok kelas.[8] Contoh diketahui 20 siswa mengikuti ujian akhir semester mata pelajaran bahasa Arab memperoleh skor mentah sebagai berikut:
32,      36,      27,       50,       22,      
34,      35,      37,       43,       17,
21,      42,       46,       32,       31,
28,      57,       57,       54,       51.
       Penyelesaian nilai peserta didik dengan pendekatan PAN:[9]

1.      Menyusun skor terkecil hingga terbesar
17,         21,         22,       27,       28,
31,         32,         32,       34,       35,
36,         37,         42,       43,       46,
50,         51,         54,      57,       57.
a.       Mencari rentangan (range) yaitu skor terbesar dikurangi skor terkecil
57 – 17 = 40
b.      Mencari banyak kelas interval
Banyak kelas       = 1 + (3,3) log n
                            = 1 + (3,3) log 20
                            = 1 + (3,3) (1,3010)
                            = 1 + 4,2933 = 5,2933
                            = 6 (dibulatkan)
                             
c.       Mencari interval kelas
Interval    =           =   =  6,666 = 7 (dibulatkan)
d.      Menyusun daftar distribusi frekuensi

Kelas interval
tabulasi
frekuensi
52 - 58
III
3
45 - 51
III
3
38 - 44
II
2
31 - 37
IIIIIII
7
24 - 30
II
2
17 - 23
III
3
Jumlah
20


2.      Menghitung rata-rata actual

Interval kelas
Frekuensi (f)
Nilai tengah (Nt)
(f.Nt)
f.Nt2
52 – 58
3
55
165
9075
45 – 51
3
48
144
6912
38 – 44
2
41
82
3362
31 – 37
7
34
238
8092
24 – 30
2
27
54
1458
17 – 23
3
20
60
1200
Jumlah


743
30099

Rumus rata-rata actual[10]
   =    =    = 37.15
3.      Menghitung simpangan baku aktual
SD =    =  
       =           = 11.46

4.      Menyusun pedoman konversi
Pedoman konversi yang digunakan sama dengan PAP, hanya berbeda pada penghitungan rata-rata () dan simpangan baku (SD).[11]

D.    Merangking Siswa dari Beberapa Mata Pelajaran
Dibawah ini terdapat 5 siswa yang mempunyai variasi skor yang unik. Hanya dengan melihat  jumlah skor saja dapatkah ditentukan siapa yang menduduki tempat tertinggi?[12]
Bid.Studi
Nama
MTK
IPA
IPS
B.IND
B.ARB
Jumlah
No.
Tina
90
90
90
90
90
253
I
Rita
70
70
70
70
70
251
II
Haya
50
50
50
50
50
250
III
Dita
30
30
30
30
30
249
IV
Alia
10
10
10
10
10
247
V
MEAN
50
50
50
50
50


S.DEVIASI
31.84
14.14
7.07
3.69
1.41



       Mean = 
        SD               =   
Melihat keadaan nilai kelima siswa tersebut, nampaknya Tina menduduki peringkat teratas karena memiliki jumlah skor terbanyak. Sedangkan Ani memiliki skor paling sedikit sehingga menduduki peringkat paling bawah. Apakah ketentuan ini adil?. Dengan menggunakan Z- score  dapat lain bahkan menjadi sebaliknya.
Contoh nilai MTK Tina adalah 90. Rata-rata nilai matematika tersebut adalah 50 dengan standar deviasi 31.84. Maka Z-score Tini adalah:
       Z =    = 1,26
Dengan cara yang sama akan dapat dicari Z-score masing-masing  siswa untuk seluruh bidang studi. Dan hasilnya sebagai berikut:[13]
a.       studi
nama
MTK
IPA
IPS
B.IND
B.ARB
Jumlah
No.
Tina
1.26
-1.41
-1.41
-1.36
-1.42
-4.34
V
Rita
0.63
-0.71
-0.71
-0.81
-0.71
-2.31
IV
Haya
0.00
-0.00
-0.00
-0.00
-0.00
-0.00
III
Dita
0.63
0.71
0.71
0.81
0.71
2.31
II
Alia
1.26
1.41
1.41
1.36
1.42
4.34
I
















BAB III
1.      Teknik Pengolahan Data Hasil Evaluasi dengan cara diantaranya sebagai berikut:
a.       Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf
b.      Mengolah skor mentah menjadi skor standart 1-10
c.       Mengolah skor mentah menjadi skor standart Z dan T
2.      Pedoman konversi yang digunakan PAP dan PAN sama, hanya berbeda pada penghitungan rata-rata () dan simpangan baku (SD).
3.      Dalam memberikan peringkat siswa, menggunakan prosedur z-score akan lebih evektif dan jauh dari kemungkinan terjadinya ketidak adilan dibandingkan dengan memberikan peringkat dengan menjumlah skor keseluruhan saja.










Arifin, Zainal, 1991. Evaluasi Instruksional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 1996. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Mudjijo. 1995. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto, Ngalim. 2006. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.



[1] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) , h.221
[2] Mudjijo, Tes Hasil Belajar,  (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 91
[3] Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 87
[4] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 259
[5] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991), h. 102
[6] Op. Cit., Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, h. 250
[7] Op. Cit., Mudjijo, h. 93
[8] Op. Cit., Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran. h, 240
[9] Ibid., h. 241
[10] Op. cit., Zainal Arifin, evaluasi instruksional, h. 94
[11] [11] Op. Cit., Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran. h, 244
[12] [12] Op. Cit., Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, h. 277
[13] Ibid., h. 278

3 komentar:

  1. lucuuw,, rumusnya gak mau muncull/// hhhh

    BalasHapus
  2. terimakasih ^^
    saya tidak sempat membaca buku paket nya, tulisan ini sedikit memberikan saya gambaran :)

    BalasHapus

Pages - Menu

Pengikut